TAPUT.WAHANANEWS.CO, Siborongborong - Ephorus HKBP Dr Vikto Tinambunan menjelaskan, "Hadir dalam acara ini rombongan 2 bus Bapak dan Ibu umat Muslim dari Tapanuli Selatan", mengikuti acara awal tahun sekber gokesu pada, Sabtu (10/01/2026)
Dr. Viktor Tinambunan, "Saudara-saudari terkasih di dalam Tuhan". Umat Tuhan yang mencintai kehidupan dan yang setia menjaga nurani publik.
Baca Juga:
Jalan Menuju Kecamatan Pagaran Nyaris Putus, Butuh Perhatian Pemerintah
Awal tahun ini kita tidak hanya membuka kalender baru, kita juga mewarisi luka lama - luka akibat bencana ekologis yang sesungguhnya bukan kehendak Tuhan, melainkan buah dari keserakahan manusia.
Hari ini kita menoleh sejenak ke masa lalu,
bukan untuk tenggelam dalam ratapan,
tetapi agar sejarah tidak mengulangi tragedinya.
Tanah yang dulu subur berubah luka,
air yang dulu jernih menjadi ancaman,
dan alam yang selama ini sabar akhirnya bersuara dengan jeritan.
Baca Juga:
Sekber Gokesu Menggelar Bona Taon di Jetun Silangit, Warnai Perlawanan Kejahatan Ekologis di Sumut
Bencana ini tidak datang tiba-tiba. Ia telah lama diperingatkan. Ia telah lama diteriakkan.
Suara masyarakat, suara pegiat lingkungan, suara pendamping rakyat,
dan suara para rohaniawan telah berulang kali berseru, "hentikan perusakan hutan, hentikan pemerkosaan alam"!.
Namun suara itu terlalu sering dianggap sunyi, diabaikan, bahkan disingkirkan demi kepentingan ekonomi segelintir orang. Baru-baru ini, alam mengambil alih mimbar. Ia berseru melalui banjir dan longsor.
Ia bersaksi lewat rumah yang hanyut, sawah yang tertimbun, dan air mata rakyat kecil. Jeritan alam kini tak bisa lagi dibungkam.
Karena itu, dengan penuh hormat namun dengan keberanian moral, kita menyatakan:
inilah saatnya Pemerintah bertindak tegas dan berpihak pada kehidupan. Bukan kebijakan yang ragu-ragu, bukan kompromi yang mengorbankan rakyat, melainkan keputusan yang adil, berani, dan berjangka panjang.
Kepada para pengusaha yang telah mengumpulkan dan menikmati kekayaan besar, kita berkata dengan jujur dan terbuka, cukup sudah alasan, cukup sudah dalih. Keuntungan tidak boleh dibangun di atas kehancuran ciptaan Tuhan. Saatnya berhenti merusak, dan mulai bertanggung jawab. Bukan memberi bantuan, tetapi ganti rugi yang adil dan pemulihan yang nyata.
Kepada kita semua yang berkumpul di tempat ini: "perjuangan kita belum selesai.
Tugas kita bukan hanya mengawal penutupan operasional PT TPL dan perusak alam yang lain, tetapi memastikan apa yang terjadi setelahnya".
Pemulihan harus sungguh-sungguh:
hulu sungai dijaga, hutan dipulihkan,
ruang hidup satwa dikembalikan.
Agar monyet-monyet tidak lagi terusir dari rumahnya dan terpaksa merampok ladang penduduk.
Agar masyarakat hidup tanpa rasa takut,
dalam damai, keadilan, dan kesejahteraan.
Sebagai umat Kristen, kita percaya:
bumi bukan milik segelintir pemodal,
bumi adalah ciptaan Tuhan yang dipercayakan. Dan iman tanpa keberpihakan pada kehidupan
bukanlah iman yang hidup.
Hari ini, didasari doa bersama, biarlah lahir satu suara yang kuat, jernih, dan tidak bisa diabaikan:
kami memilih kehidupan,
kami menjaga ciptaan,
dan kami tidak akan diam ketika bumi dilukai.
Kiranya Tuhan meneguhkan langkah kita,
menguatkan keberanian kita,
dan memberkati perjuangan ini
demi generasi hari ini dan generasi yang akan datang. Tuhan memberkati kita semua. Amin
[Editor: Eben Ezer S]