TAPUT.WAHANANEWS.CO, Siborongborong - Tata gereja membuka resmi gelar Sinode Godang GPKB se Indonesia di Wisma Daun Mas, Desa Pohantonga, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, dimulai pada Sabtu (07/03/2026).
Di dalam nama Allah Bapa, dan AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus dengan mengetukkan palu tiga kali. Dalam laporan Ketua panitia St Harilyanto Sianipar, sesuai dengan Aturan Peraturan GPKB peserta yang dihadiri unsur Pendeta, Guru Huria, Penatua dan Jemaat berkisar 100 orang sinodestan, hingga Minggu 08/03/2026.
Baca Juga:
Bupati Taput Sapa dan Tampung Keluhan Para Pasien di Rumah Sakit Tarutung
“Berdasarkan Aturan dan Peraturan GPKB panitia melaporkan bahwa kehadiran peserta telah memenui quorum, 100 persen,” laporan ketua panitia. Ibadah Pembukaan dilayani oleh Liturgis Pdt Kristina Sihotang dan pengkotbah Pdt Jufri Simanungkalit
Pimpinan sidang sinode Pantun Sinturi selaku penanggungjawab berharap, melalui sidang sinode bersama ini menghasilkan keputusan yang membawa kemajuan bagi gereja GPKB se Indonesia . Sidang ini membentuk dua kelompok komisi, komisi tata gereja yang dikordinatori Pdt Sopater Simanjuntak. Kordinator komisi program pelayanan Pdt Jumiaris Manalu.
Melalui ibadah menjadi acuan tema Membangun dan Menanam dengan Sopan dan teratur dan subtema Merevitalisasi Pendidikan, Kesehatan, Kepedulian Sosial dan Pemberitaan Firman. Ujarnya.
Baca Juga:
Untuk Kenyamanan Pasien, Bupati Taput Resmikan Poli Jantung, Poli Penyakit Dalam dan Unit Pelatihan dan Pengembangan SDM
Pada awal khotbah Pdt Julfri Simanungkalit menekankan pentingnya pembekalan kepada sinodestan melalui firman Tuhan dalam ibadah pembukaan. “Ibadah dilakukan diawal persidangan bukan sebagai formalitas, tapi sebagai sebuah refleksi dan momen perjumpaan dengan Tuhan. Allah hadir dalam persidangan kita,” katanya.
Ia mengatakan di dalam persidangan perlu pikiran yang jernih dan penuh kasih. Itu semua bisa terjadi karena diterangi firman Tuhan untuk menggumuli arah pelayanan GPKB. “Roh Allah hadir di persidangan menyertai tiap sidang untuk menerangi pikiran setiap peserta. Ada mekanisme di dalam persidangan dengan diterangi nilai-nilai Injil dan dalam suasana kekeluargaan,” tuturnya.
Pdt Julfri Simanungkalit juga berbicara soal kepelbagaian di dalam pelayanan gereja. Beragam jenis gereja hadir untuk melayani. “Kita di gereja juga memiliki ragam perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan kita. Kepelbagaian di dalam pelayanan gereja harus kita syukuri,” ujarnya.