Ia memberikan refleksi atas pertanyaan relevansi bentuk pelayanan gereja melalui pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman terhadap kebutuhan jemaat dan masyarakat.
“Masihkah pelayanan gereja melalui pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman relevan menyentuh banyak orang? Bagaimana kita mengembangkan bentuk-bentuk pelayanan gereja dalam bentuk pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman supaya relevan di era digital ini sehingga menyentuh kebutuhan banyak orang?” ucapnya.
Baca Juga:
Bupati Taput Sapa dan Tampung Keluhan Para Pasien di Rumah Sakit Tarutung
Ia mengatakan juga kalau berefleksi itu berarti perlu berhenti sejenak merenungkan makna teologis pelayanan gereja yang tertuang dalam sub tema merevitalisasi pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman.
“Revitalisasi hanya mungkin dilakukan dalam ketaatan kepada Kristus dengan kasih. Allah hadir dalam situasi nyata umatNya. Allah mengasihi kita dengan kasih yang kekal dan siap dibangun kembali,” terangnya.
Prinsip revitalisasi ini didasarkannya atas kehadiran Tuhan Yesus Kristus untuk merevitalisasi kehidupan umatnya dan memperbaikinya. Ia mengatakan, merevitalisasi membutuhkan mata terbuka dan dengan komitmen bersama.
Baca Juga:
Untuk Kenyamanan Pasien, Bupati Taput Resmikan Poli Jantung, Poli Penyakit Dalam dan Unit Pelatihan dan Pengembangan SDM
Ia menambahkan, upaya menanam dan membangun hanya bisa dilakukan dengan berpegang kepada janji Allah sendiri. Amin mengahiri.
Dalam ibadah ini juga dilakukan Perjamuan Kudus. Ibadah diawali dengan prosesi dari Menza Baru dengan urutan pembawa Bendera Merah Putih, Bendera GPKB, Vandel tiap distrik, pembawa Alkitab, Salib dan Lilin, pengkhotbah, liturgis, pimpinan GPKB, undangan, dan praeses.
[Editor: Tohap Simaremare]