Ia memberikan refleksi atas pertanyaan relevansi bentuk pelayanan gereja melalui pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman terhadap kebutuhan jemaat dan masyarakat.
“Masihkah pelayanan gereja melalui pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman relevan menyentuh banyak orang? Bagaimana kita mengembangkan bentuk-bentuk pelayanan gereja dalam bentuk pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman supaya relevan di era digital ini sehingga menyentuh kebutuhan banyak orang?” ucapnya.
Baca Juga:
Federasi Serikat Buruh Laporkan PTPN IV ke Polda Jambi
Ia mengatakan juga kalau berefleksi itu berarti perlu berhenti sejenak merenungkan makna teologis pelayanan gereja yang tertuang dalam sub tema merevitalisasi pendidikan, kesehatan, kepedulian sosial dan pemberitaan Firman.
“Revitalisasi hanya mungkin dilakukan dalam ketaatan kepada Kristus dengan kasih. Allah hadir dalam situasi nyata umatNya. Allah mengasihi kita dengan kasih yang kekal dan siap dibangun kembali,” terangnya.
Prinsip revitalisasi ini didasarkannya atas kehadiran Tuhan Yesus Kristus untuk merevitalisasi kehidupan umatnya dan memperbaikinya. Ia mengatakan, merevitalisasi membutuhkan mata terbuka dan dengan komitmen bersama.
Baca Juga:
Realisasi Penggunaan Dana BOS di SMPN 4 Siborongborong Tahun 2025 Patut Dipertanyakan
Ia menambahkan, upaya menanam dan membangun hanya bisa dilakukan dengan berpegang kepada janji Allah sendiri. Amin mengahiri.
Dalam ibadah ini juga dilakukan Perjamuan Kudus. Ibadah diawali dengan prosesi dari Menza Baru dengan urutan pembawa Bendera Merah Putih, Bendera GPKB, Vandel tiap distrik, pembawa Alkitab, Salib dan Lilin, pengkhotbah, liturgis, pimpinan GPKB, undangan, dan praeses.
[Editor: Tohap Simaremare]