TAPUT.WAHANANEWS.CO, Siborongborong II - Sering kali tanpa sadar kita datang kepada Tuhan dengan cara berpikir yang keliru. Kita merasa telah memberi banyak kepada Tuhan melalui persembahan, pelayanan, waktu, tenaga atau berbagai bentuk pengorbanan lainnya.
Bahkan terkadang muncul perasaan terkait, Tuhan harus melakukan sesuatu hal bagi kita, karena kita sudah melakukan banyak hal untuk Tuhan. Sehingga dengan perasaan yang demikian, ibadah berubah menjadi perhitungan untung rugi.
Baca Juga:
Tiga Tahun Kasus Dugaan Pembunuhan Rosni Kaur Warga Siborongborong, Polres Toba Belum Dapat Mengungkap
Dalam Mazmur 50 Tuhan mengingatkan bahwa dunia dan segala isinya adalah milikNya. Tidak ada satu pun yang benar-benar berasal dari kita. Nafas yang kita hirup, kesehatan yang kita nikmati, pekerjaan yang kita kerjakan, harta yang kita miliki dan bahkan hidup kita sendiri adalah milik Tuhan.
Karena itu, ketika kita memberi persembahan kepada Tuhan, sebenarnya kita hanya mengembalikan sebagian kecil dari apa yang terlebih dahulu telah kita terima dariNya.
Fakta yang perlu diketahui melalui nats ini, Tuhan tidak membutuhkan uang kita, karena seluruh kekayaan dunia adalah milikNya. Tuhan tidak membutuhkan kekuatan kita, karena Dialah sumber segala kuasa. Tuhan tidak membutuhkan kemampuan kita, karena segala talenta berasal dariNya. Yang Tuhan rindukan dari kita adalah hati yang bersyukur, hati yang mengasihiNya dan hati yang percaya kepadaNya.
Baca Juga:
Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Utara Gotong Royong Bersama Masyarakat, Tinjau Infrastruktur di Desa Hutagalung dan Parbaju Toruan
Dalam mazmur 50:7-15, kita melihat jelas bahwa Tuhan sedang membongkar pemahaman ibadah yang keliru. Mereka tampaknya menganggap bahwa korban yang mereka persembahkan adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh Tuhan. Seolah-olah dengan membawa lembu, kambing dan persembahan lainnya, mereka sedang memberikan sesuatu yang kurang pada diri Tuhan.
Karena itulah Tuhan membongkar kekeliruannya dengan berkata bahwa Ia tidak memerlukan lembu dari kandang mereka, sebab segala binatang dihutan dan di gunung-gunung adalah milikNya. Disini Tuhan ingin menunjukkan bahwa Ia tidak seperti Dewa-dewa bangsa lain yang dianggap membutuhkan makanan atau persembahan dari manusia.
Allah Israel adalah Allah pencipta langit dan bumi yang tidak bergantung pada siapapun. Justru manusialah yang hidup, bernapas bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kesalahan umat bukan terletak pada korban yang mereka bawa, tetapi pada pemikiran yang menyatakan bahwa mereka dapat memenuhi kebutuhan Tuhan melalui korban tersebut.