TAPUT.WAHANANEWS.CO, Siborongborong - Saat ini para petani tanaman padi akan melakukan Musim Tanam 1 (MT1) pemupukan tanaman Padi di Kabupaten Tapanuli Utara. Pemerintah telah menyediakan pupuk bersubsidi sebanyak 670 ton, untuk Musim Tanam (MT1), tanam padi, dan MT 2 tanaman jagung dan telah tersedia pupuk NPK,Urea dan organik. Hal itu disampaikan Plt kadis pertanian Tapanuli Utara,Viktor Siagian lewat Whats App, Rabu (8/4/2026).
"Saat ini dalam musim pemupukan tanaman padi di Kabupaten Tapanuli Utara telah tersedia pupuk dalam musim dan bahkan telah berproses mulai (7/4 /2026) dan saat ini suda tersedia 300 ton NPK, 330 ton Urea,40 ton organik". Ujar Viktor.
Baca Juga:
630 Ton Stok NPK dan Urea Bersubsidi Ada di Gudang Lini 3 Tapanuli Utara.
Saat ditanya berapa jumlah Rencana Devinitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) di 15 Kecamatan tahun 2026, Adiankoting Urea 475.931 ton, NPK 597.670 ton dan organik 136.800 ton. Pagaran Urea 982.431 ton, NPK 1.441.554 ton dan organik 90.900 ton.
Sipahutar Urea 1.677.731 ton dan Organik 10.550 ton. Pagaribuan, Urea 2.390.185 ton dan Organik 715.450 ton.Garoga, Urea 2.464.900 ton,NPK 2.816.600 ton dan Organik 1.398.000 ton.Siborongborong, Urea 1.594.600 ton, NPK 2.593.774 ton dan Organik 1.256.521 ton.
Sedangkan kecamatan Parmonangan Urea 932.400 ton, NPK 1.036.000 ton. Sipaholon, Urea 1.082.843 ton, NPK 1.269 ton Organik 294.700 ton. Pahae julu, Urea 418.409 ton, NPK 442.139 ton Organik 8740 ton. Pahae jae Urea 494,496 ton, NPK 616.322 ton, Organik 42.420 ton.
Baca Juga:
Percepatan Penanganan Banjir dan Konektivitas Antar Kabupaten, Bupati Taput Temui Kepala BBPJN Sumut
Simangumban Urea 393.700 ton, NPK 590.160 ton. Purbatua Urea 353.565 ton, NPK 381.100 ton,Organik 159.200 ton. Muara Urea 689.195 ton,NPK 1.543.478 ton,Organik 395.465 ton. Tarutung Urea 689.195 ton,NPK 1.545.478 ton, Organik 495.475 ton dan Siatas Barita Urea 621.378 ton,NPK 723.868 ton,ujar Viktor.
"Jadi untuk musim pemupukan saat ini, pupuk yang telah kita terima baru 670 ton dan kalau diperkirakan apabila pupuk sudah datang hampir sebanyak 8000 ton". Ujar Plt kadis pertanian itu.
Penyaluran pupuk bersubsidi untuk Musim Tanam 1 (MT1) dan Musim Tanam 2 (MT2) di Kabupaten Tapanuli Utara merupakan mekanisme distribusi pupuk yang harganya telah disubsidi pemerintah (Urea, NPK dan Organik) kepada petani, berdasarkan rencana kebutuhan yang disusun dalam e-RDKK, yang dilaksanakan melalui distributor dan pengecer resmi.
Berikut adalah definisi dan konteksnya:
1. Definisi Berdasarkan Musim Tanam (MT)
MT 1 (Oktober - Maret / Okmar): Penyaluran pupuk yang difokuskan pada awal musim tanam utama (biasanya musim hujan), di mana kebutuhan pupuk tinggi untuk fase pemupukan dasar dan pertumbuhan awal tanaman. Pemerintah sering kali melakukan percepatan penyaluran pada periode ini untuk mendukung ketahanan pangan.
MT 2 (April - September / Aprise): Penyaluran pupuk untuk musim tanam kedua. Jika stok terbatas di MT1, terkadang alokasi pupuk di MT2 dapat ditarik atau digunakan lebih awal untuk memenuhi kebutuhan tanam yang mendesak.
2. Mekanisme Penyaluran di Tapanuli Utara
Berbasis e-RDKK: Penyaluran wajib berdasarkan Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK). Petani terdaftar mendapatkan jatah pupuk sesuai luas lahan maksimal 2 hektar.
Penyaluran Tertutup: Didistribusikan dari produsen (Lini I/II) ke distributor (Lini III) lalu ke Kios Pupuk Lengkap/Pengecer (Lini IV) di wilayah Tapanuli Utara.
Penebusan: Petani menebus pupuk subsidi menggunakan KTP di Kios Pengecer resmi (KPL) dengan harga sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi).
Pengawasan: Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara bersama produsen (PT Pupuk Indonesia) secara berkala melakukan evaluasi untuk memastikan stok aman dan mencegah penyelewengan, terutama menjelang masa tanam.
3. Ketentuan Khusus 2026
Penebusan Awal: Pupuk bersubsidi tahun 2026 sudah dapat ditebus mulai 1 Januari 2026. Harga Eceran Tertinggi (HET) 2026:
Urea: Rp1.800 per kg.
NPK: Rp1.840 per kg.
Penyaluran ini bertujuan agar beban biaya produksi petani di Tapanuli Utara berkurang dan produktivitas perta nian terjaga, khususnya pada komoditas tanaman pangan.
[Editor: Eben Ezer S]