TAPUT.WAHANANEWS.CO, Siborongborong - Upaya sejumlah wartawan untuk bertemu langsung dengan Kepala SMAN 1 Sibnorongborong Kabupaten Tapanuli Utara, berujung pada dugaan kuat bahwa pihak sekolah tengah berusaha menghindari sorotan publik. Sikap tertutup dan berbelit-belit yang ditunjukkan sekolah menimbulkan kecurigaan: ada apa yang coba disembunyikan?
Pada Selasa siang (19/05/2026), Tim jurnalis datang ke SMAN 1 Siborongborong untuk meminta klarifikasi langsung dari kepala sekolah terkait sejumlah isu pengelolaan dan layanan pendidikan yang berkembang di masyarakat. Namun, alih-alih mendapat sambutan, para wartawan justru dihadapkan pada dalih-dalih yang dianggap mengada-ada.
Baca Juga:
Dimulainya Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah Tingkat SD 2026 di SD Negeri 173299 Paniaran Berjalan Tertib dan Lancar
Piket sekolah tidak menyebut identitasnya awalnya mengatakan kepala sekolah memerintahkan setiap tamu harus mintak izin langsung maupun melalui telpon genggam. Tim jurnalis menghubungi lewat telepon genggam namun tidak berhasil walaupun berdering dan menunggu dengan sabar di lingkungan sekolah. Namun, setelah ditunggu berjam-jam, barulah diinformasikan bahwa kepala sekolah sudah pergi tugas luar.
Keterangan mendadak yang baru disampaikan setelah wartawan menunggu lama ini jelas memunculkan kesan penghindaran. Terlebih, tidak ada pemberitahuan resmi sebelumnya maupun permintaan maaf secara terbuka.
“Kami datang dengan niat baik menjalankan tugas jurnalistik. Tapi perlakuan seperti ini mencerminkan ketertutupan. Padahal kami hanya ingin konfirmasi, bukan menghakimi,” tegas salah satu wartawan yang hadir.
Baca Juga:
Bupati Tapanuli Utara Pimpin Apel Gabungan dan Tekanan Displin Serta Peningkatan Kinerja
Perlu dicatat, SMAN 1 Diborongborong adalah lembaga pendidikan negeri yang dibiayai oleh negara, dan wajib tunduk pada UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Menutup akses terhadap media sama saja dengan menghalangi hak publik untuk tahu.
Hingga berita ini diterbitkan, tidak ada klarifikasi apa pun dari kepala sekolah. Diamnya pihak sekolah justru semakin memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu yang tengah ditutupi. Jika tidak ada masalah, mengapa harus menghindar? Jika tak ada yang disembunyikan, mengapa takut bicara?
[Editor: Eben Ezer S]