TAPUT.WAHANANEWS.CO, Siborongborong - Diduga pengaruh pembukaan lahan seluas 50 hektar diatas lahan register 42 sijaba untuk pertanian terpadu sangat rentan memicu kekeringan akibat hilangnya daerah resapan air. Ditambah pembuatan parit sedalam 2 meter, luas 2 meter sepanjang batas keliling diatas lahan 50 hektar. Warga yang berdampingan langsung dengan lahan register 42 sijaba, Desa Siborongborong II, Silaitlait, Siaro, Sitabotabo sangat mengkwatirkan kedepan apabila pemerintah tidak segera menanggulangi dampaknya, ungkap mereka saat bincangbincang diatas lahan pertanian terpadu tersebut pada Jumat (12/06/20026).
Pemerhati pertanian juga aktif anggota kelompok tani, Jujur M Lumbantoruan minta Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara, untuk mencegahnya, pemerintah harus menerapkan konservasi air dan tanah secara ketat, seperti membangun embung, mengadopsi irigasi tetes, serta menanam tanaman penyerap air seperti vetiver.
Baca Juga:
Pemkab Tapanuli Utara Terima Penghargaan, Dukungan Pembentukan Posbankum Desa/Kelurahan
Berikut adalah panduan mitigasi dan pengelolaan air yang perlu disiapkan, pembangunan Infrastruktur Penampung Air (Water Catchment) diarea seluas 50 hektar, dan di desa yang terdampak, untuk kebutuhkan cadangan air buatan menopang kebutuhan sepanjang tahun pada setiap musim kemarau. Pembangunan embung & Long Storage. Buatan cekungan atau waduk mini di titik terendah lahan untuk menampung limpasan air hujan.
Sumur Resapan & Biopori diletakkan di area hulu atau sekitar bangunan penunjang pertanian untuk memaksimalkan air masuk ke dalam tanah. Warga petani yang berdampingan langsung ke lahan pertanian terpadu, kedepan agar dapat penerapan sistem Irigasi efisien. Pengalihan penggunaan air dari sistem genangan yang boros ke teknologi modern untuk menghemat air hingga 50% - 70%. Irigasi Tetes (Drip Irrigation).
Air disalurkan langsung ke akar tanaman melalui selang, meminimalisir penguapan. Irigasi Curah (Sprinkler): Cocok untuk tanaman holistik di lahan pertanian di lahan masyarakat. Irigasi Cerdas (Smart Farming), dapat manfaatkan sensor kelembapan berbasis IoT untuk mengotomatisasi penyiraman sesuai kebutuhan riil tanah.
Baca Juga:
Sinergi UHC Pemkab Tapanuli Utara Bersama BPJS Kesehatan Sibolga Tingkatkan Layanan Kesehatan
Konservasi Tanah (Bio-Drainase), tanah harus dijaga kemampuannya dalam mengikat dan menahan air. Tanam Vetiver (Akar Wangi) sangat efektif menahan erosi dan meningkatkan kapasitas retensi air tanah.
Pemerintah Tapanuli Utara, harus mengawasi manajemen Pertanian terpadu. Pertanian terpadu harus memiliki sirkulasi air yang saling mendukung, ujarnya saat dipembahasan mereka dan diamini warga lainnya.
Wahana News Tapanuli Utara, menyampaikan hal tersebut melalui Asisten pemerintahan Bithot Aritonang di lokasi pertanian terpadu mengatakan, akan membawakan hal tersebut ke Bupati agar nantinya dibahas, ujarnya.