Kepada para pengusaha yang telah mengumpulkan dan menikmati kekayaan besar, kita berkata dengan jujur dan terbuka, cukup sudah alasan, cukup sudah dalih. Keuntungan tidak boleh dibangun di atas kehancuran ciptaan Tuhan. Saatnya berhenti merusak, dan mulai bertanggung jawab. Bukan memberi bantuan, tetapi ganti rugi yang adil dan pemulihan yang nyata.
Kepada kita semua yang berkumpul di tempat ini: "perjuangan kita belum selesai.
Tugas kita bukan hanya mengawal penutupan operasional PT TPL dan perusak alam yang lain, tetapi memastikan apa yang terjadi setelahnya".
Baca Juga:
Jalan Menuju Kecamatan Pagaran Nyaris Putus, Butuh Perhatian Pemerintah
Pemulihan harus sungguh-sungguh:
hulu sungai dijaga, hutan dipulihkan,
ruang hidup satwa dikembalikan.
Agar monyet-monyet tidak lagi terusir dari rumahnya dan terpaksa merampok ladang penduduk.
Agar masyarakat hidup tanpa rasa takut,
dalam damai, keadilan, dan kesejahteraan.
Sebagai umat Kristen, kita percaya:
bumi bukan milik segelintir pemodal,
bumi adalah ciptaan Tuhan yang dipercayakan. Dan iman tanpa keberpihakan pada kehidupan
bukanlah iman yang hidup.
Hari ini, didasari doa bersama, biarlah lahir satu suara yang kuat, jernih, dan tidak bisa diabaikan:
kami memilih kehidupan,
kami menjaga ciptaan,
dan kami tidak akan diam ketika bumi dilukai.
Baca Juga:
Sekber Gokesu Menggelar Bona Taon di Jetun Silangit, Warnai Perlawanan Kejahatan Ekologis di Sumut
Kiranya Tuhan meneguhkan langkah kita,
menguatkan keberanian kita,
dan memberkati perjuangan ini
demi generasi hari ini dan generasi yang akan datang. Tuhan memberkati kita semua. Amin
[Editor: Eben Ezer S]